Di gerbang masuk Dataran Tinggi Dieng, tepatnya di sisi jalan raya menuju desa Dieng, terdapat sebuah situs kuno yang hingga kini masih dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Destinasi ini adalah Tuk Bima Lukar. Lebih dari sekadar pancuran air biasa, situs ini merupakan peninggalan purbakala yang menyimpan nilai sejarah, mitologi, dan kepercayaan spiritual yang mendalam.
Bagi wisatawan yang ingin memahami sisi magis Dieng, Tuk Bima Lukar adalah perhentian pertama yang wajib dikunjungi.
Asal-Usul Nama dan Legenda Sang Bima
Nama “Tuk Bima Lukar” memiliki arti yang unik dalam bahasa Jawa. Tuk berarti mata air, Bima merujuk pada salah satu tokoh perkasa dalam Pandawa, dan Lukar berarti melepas pakaian.
Menurut legenda setempat, mata air ini terbentuk saat tokoh Bima sedang berlomba membuat sungai melawan Kurawa. Sebelum mulai menggali, Bima melakukan ritual bersuci dan melepas pakaian (lukar) di tempat ini. Air yang mengalir di sini dipercaya merupakan air kencing Bima yang sangat kuat, yang kemudian menjadi sumber utama Sungai Serayu, salah satu sungai terbesar di Jawa Tengah yang menghidupi jutaan orang di beberapa kabupaten.
Mata Air Awet Muda: Mitos yang Melegenda
Salah satu daya tarik utama Tuk Bima Lukar bagi wisatawan adalah mitos tentang khasiat airnya. Dipercaya secara turun-temurun, siapa pun yang mencuci muka atau mandi di pancuran Tuk Bima Lukar akan mendapatkan berkah:
- Awet Muda: Banyak pengunjung yang sengaja datang untuk membasuh wajah dengan harapan wajah akan terlihat segar dan awet muda secara alami.
- Keberuntungan: Air suci ini juga sering digunakan sebagai sarana ritual untuk membuang kesialan atau memohon kelancaran rezeki.
- Kesegaran Alami: Di luar mitos tersebut, air yang mengalir di sini memang sangat jernih, sangat dingin, dan murni karena keluar langsung dari perut bumi pegunungan Dieng.
Arsitektur Situs dan Struktur Pancuran
Secara fisik, Tuk Bima Lukar adalah sebuah situs petirtaan kuno yang sederhana namun memiliki karakteristik arsitektur klasik:
- Dua Pancuran Utama: Terdapat dua buah pancuran batu yang terus mengalirkan air tanpa henti, bahkan di musim kemarau sekalipun.
- Kolam Penampungan: Di bawah pancuran terdapat kolam kecil yang digunakan pengunjung untuk menampung air.
- Struktur Batu Purba: Beberapa bagian dinding dan lantai situs masih menggunakan tatanan batu kuno yang menyerupai material bangunan candi-candi di Dieng.
Etika dan Tips Saat Berkunjung
Karena Tuk Bima Lukar dianggap sebagai tempat suci dan masih digunakan untuk ritual oleh masyarakat adat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pengunjung:
- Menjaga Sopan Santun: Jagalah perilaku dan tutur kata selama berada di area mata air.
- Dilarang Mengotori: Jangan membuang sampah atau menggunakan sabun/shampoo kimia yang dapat mencemari kemurnian mata air di area utama.
- Waktu Terbaik: Datanglah di pagi hari saat suasana masih sunyi agar Anda bisa merasakan energi ketenangan dan kesegaran airnya secara maksimal.
- Siapkan Wadah: Jika Anda ingin membawa pulang air suci ini, siapkan botol atau wadah kosong sendiri dari rumah.
Lokasi dan Harga Tiket
Tuk Bima Lukar sangat mudah ditemukan karena terletak tepat di pinggir jalan raya utama Wonosobo – Dieng, di wilayah perbatasan antara Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara.
- Tiket Masuk: Biasanya gratis atau hanya bersifat sukarela/donasi untuk pemeliharaan kebersihan situs.
- Fasilitas: Terdapat area parkir terbatas di bahu jalan dan beberapa warung kecil di sekitarnya.
Tuk Bima Lukar mengajarkan kita tentang bagaimana alam dan spiritualitas menyatu dalam aliran air. Membasuh muka di sini bukan hanya soal kesegaran fisik, tapi juga tentang menghargai warisan budaya yang telah mengalir selama berabad-abad.










