Sumur Jalatunda Dieng: Sumur Raksasa Berbalut Mitos dan Legenda

by

Deni

sumur jalatunda

Di balik keindahan alam Dieng yang menyejukkan, terselip sebuah situs yang memicu rasa ingin tahu sekaligus kekaguman: Sumur Jalatunda. Bukan sekadar sumur biasa, situs ini merupakan sebuah lubang raksasa di atas permukaan bumi yang terbentuk akibat aktivitas vulkanik ribuan tahun silam. Dengan diameter sekitar 90 meter dan kedalaman lebih dari 100 meter, Sumur Jalatunda adalah salah satu “sumur” alami terbesar di Indonesia.

Namun, daya tarik tempat ini bukan hanya pada ukurannya, melainkan pada mitos yang telah dipercaya secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Asal-Usul dan Legenda Sumur Jalatunda

Nama “Jalatunda” berasal dari kata dalam bahasa Jawa, yakni Jala yang berarti jaring dan Tunda yang berarti tertunda. Menurut kepercayaan masyarakat Dieng, sumur ini merupakan salah satu pintu gerbang menuju dunia gaib atau kerajaan penguasa laut selatan.

Dalam dunia pewayangan, Sumur Jalatunda juga kerap dikaitkan dengan tempat pembuangan bagi para ksatria yang ingin menyucikan diri atau membuang sial. Kedalamannya yang seolah tak berdasar menciptakan suasana mistis yang kental bagi siapa pun yang berdiri di bibir sumur.

Mitos Melempar Batu: Menguji Keinginan Anda

Hal yang paling ikonik saat berkunjung ke Sumur Jalatunda adalah mitos melempar batu. Di sekitar lokasi, Anda akan menemukan banyak anak-anak atau penjual jasa yang menawarkan batu kecil.

Mitosnya sederhana: jika Anda mampu melempar batu dari bibir sumur dan mengenai dinding tebing di seberangnya (atau masuk ke dalam air bagi yang beruntung), maka segala keinginan atau cita-cita Anda akan segera terkabul.

Namun, jangan salah sangka. Meskipun terlihat mudah, lebar sumur yang mencapai puluhan meter dan hembusan angin yang kencang membuat banyak orang gagal mencapai dinding seberang. Terlepas dari kebenarannya, aktivitas ini menjadi keseruan tersendiri bagi para wisatawan.

Keindahan Geologis dan Pemandangan Alam

Secara ilmiah, Sumur Jalatunda adalah sebuah kawah mati yang terbentuk dari letusan freatik gunung berapi. Air yang berada di dasar sumur berwarna hijau pekat dan sangat tenang, memberikan kontras yang cantik dengan dinding tebing batu yang ditumbuhi lumut dan tumbuhan liar.

Untuk mencapai bibir sumur, Anda harus menaiki sekitar 250 anak tangga. Meski cukup menguras tenaga, rasa lelah akan terbayar dengan pemandangan pegunungan yang mengelilingi kawasan Desa Pekasiran serta udara yang sangat bersih.

Tips Berkunjung ke Sumur Jalatunda

  • Hati-hati Saat Melangkah: Anak tangga menuju sumur bisa menjadi sangat licin terutama setelah hujan atau saat embun pagi masih tebal. Gunakan alas kaki dengan grip yang kuat.
  • Jaga Sopan Santun: Mengingat tempat ini dianggap sakral, pastikan untuk menjaga tutur kata dan tidak membuang sampah sembarangan di dalam maupun di sekitar area sumur.
  • Siapkan Stamina: Pendakian anak tangga cukup melelahkan bagi pemula. Pastikan Anda sedang dalam kondisi fit.
  • Waktu Terbaik: Datanglah saat pagi hari sebelum kabut turun agar Anda bisa melihat permukaan air di dasar sumur dengan jelas.

Lokasi dan Harga Tiket Masuk

Sumur Jalatunda terletak di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Banjarnegara. Lokasinya searah dengan Kawah Candradimuka dan Telaga Dringo.

  • Tiket Masuk: Sangat terjangkau, sekitar Rp10.000 – Rp15.000.
  • Parkir: Sekitar Rp5.000.
  • Fasilitas: Terdapat toilet, warung makan kecil, dan penjual batu (bagi Anda yang ingin mencoba mitos melempar batu).

Sumur Jalatunda adalah tempat di mana kekuatan alam dan kepercayaan lokal menyatu. Mengunjungi situs ini akan memberikan Anda pengalaman wisata yang berbeda—sebuah perpaduan antara olahraga ringan, apresiasi alam, dan petualangan mistis yang unik.

Tags:

Share it:

Related Post