Dataran Tinggi Dieng tidak hanya menawarkan pesona alam yang magis, tetapi juga menyimpan harta karun arkeologi yang tak ternilai. Di tengah hamparan lembah yang sering diselimuti kabut, berdiri kokoh Kompleks Candi Arjuna. Kelompok candi Hindu ini bukan sekadar tumpukan batu, melainkan saksi bisu kejayaan peradaban Jawa kuno yang masih tegak berdiri hingga hari ini.
Sejarah dan Asal-Usul Candi Arjuna
Candi Arjuna merupakan bagian dari kelompok candi tertua di Pulau Jawa. Diperkirakan dibangun pada awal abad ke-7 hingga abad ke-9 Masehi oleh Dinasti Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno.
Nama “Arjuna” dan nama candi lain di sekitarnya diambil dari tokoh-tokoh pewayangan Mahabarata. Namun, perlu dicatat bahwa nama-nama ini diberikan oleh masyarakat lokal di kemudian hari; nama asli dari candi-candi ini saat pertama kali dibangun belum diketahui secara pasti. Secara fungsional, candi ini dibangun sebagai tempat pemujaan terhadap Dewa Syiwa.
Struktur Kompleks Candi di Pelataran Arjuna
Saat memasuki area kompleks, Anda tidak hanya akan melihat satu candi, melainkan lima candi yang berderet rapi dalam satu pelataran luas seluas sekitar 1 hektar. Candi-candi tersebut adalah:
- Candi Arjuna: Candi utama yang berada di ujung paling utara.
- Candi Semar: Terletak tepat di depan Candi Arjuna, berfungsi sebagai candi perwara (pendamping).
- Candi Srikandi: Terletak di sebelah selatan Candi Arjuna, memiliki relief unik yang menggambarkan Trimurti (Syiwa, Wisnu, dan Brahma).
- Candi Puntadewa: Memiliki struktur yang lebih tinggi dan ramping, melambangkan keagungan.
- Candi Sembadra: Candi terkecil namun memiliki detail arsitektur yang sangat cantik.
Arsitektur Khas yang Sederhana namun Megah
Berbeda dengan Candi Prambanan yang megah dan menjulang, Candi Arjuna memiliki gaya arsitektur yang lebih sederhana, khas candi-candi di Jawa Tengah bagian utara.
- Bentuk Kubus: Tubuh candi umumnya berbentuk kubus dengan atap berundak-undak.
- Kala-Makara: Di atas ambang pintu masuk, terdapat ukiran Kala (wajah raksasa tanpa rahang bawah) yang berfungsi sebagai pengusir roh jahat.
- Sistem Drainase Kuno: Di lantai pelataran, Anda bisa melihat saluran air kuno yang disebut Jaladwara, bukti bahwa masyarakat saat itu sudah memikirkan sistem pembuangan air agar candi tidak tergenang saat hujan lebat.
Fenomena Embun Upas (Embun Es) di Candi Arjuna
Salah satu daya tarik unik yang tidak ditemukan di candi lain di Indonesia adalah fenomena Embun Upas. Pada musim kemarau (Juli – Agustus), suhu di kompleks Candi Arjuna bisa turun hingga di bawah 0°C pada dini hari.
Hasilnya, rumput-rumput di sekitar candi akan tertutup kristal es tipis yang menyerupai salju. Pemandangan candi kuno yang berselimut es di bawah sinar matahari pagi memberikan atmosfer yang sangat eksotis layaknya berada di Eropa atau pegunungan Himalaya.
Tips Berkunjung ke Candi Arjuna
Agar kunjungan Anda lebih berkesan, simak beberapa tips berikut:
- Datang di Pagi Hari: Selain udara yang segar, cahaya matahari pagi sangat bagus untuk memotret detail relief batu candi.
- Gunakan Pemandu Wisata: Sangat disarankan untuk menyewa jasa pemandu lokal agar Anda bisa memahami filosofi dan sejarah di balik setiap relief.
- Hargai Kesucian Tempat: Meskipun kini menjadi objek wisata, kompleks ini tetaplah tempat suci. Jangan memanjat dinding candi dan selalu jaga perilaku.
- Jalur yang Nyaman: Area ini sangat ramah untuk semua kalangan karena jalurnya datar dan sudah tertata dengan paving block yang rapi.
Informasi Tiket Masuk dan Lokasi
- Lokasi: Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.
- Tiket Terusan: Biasanya tiket Candi Arjuna dijual secara bundling dengan Kawah Sikidang seharga kurang lebih Rp30.000 per orang. Ini jauh lebih hemat untuk mengunjungi dua ikon Dieng sekaligus dalam satu hari.
Candi Arjuna adalah titik nol bagi siapa pun yang ingin mengenal jati diri sejarah Jawa. Di sini, sejarah, spiritualitas, dan keindahan alam menyatu dalam harmoni yang tenang.










